SELF reflection is what I felt when I took this photo. Before this photo was taken, we talked about prejudice, ways of thinking, and spirituality. Most of us seem to feel holier than thou when talking about other people. And this becomes an indulgent thing for us, when in fact, it is not a healthy way of thinking as a human being.
To me, what we see or observe is a reflection of ourselves. Our bodies are beautifully designed – pornography is born from our own minds. If we think of the obscene, it is obscenity that manifests within ourselves. Is it not obscene that when you complete all your religious rituals, that you feel better than others and are in a position to judge?
I see Namrom as a human being as well as a performer. He is not caught up in the sensations of the roles he embodies, like in Suamimu Suamiku Jua, which I feel is more lurid than his naked self. Trading a fantasy of chastity as a ‘product’ without any constructive culture and thinking and we all accept as truth.
***
Membaca diri itu yang saya rasakan ketika merakamkan foto ini. Sebelum foto ini diambil kami berbual tentang prasangka,cara berfikir dan spiritual.Kebanyakan kita seolah oleh merasa lebih suci apabila bercakap tentang orang lain. Dan hal ini menjadi seperti sebuah pesta yang menyeronokan sedangkan ianya tidak sihat dari segi pemikran sebagai seorang manusia.
Bagi saya apa yang kita lihat itu adalah refleksi diri kita sendiri. Tubuh kita adalah design yang indah, lucah lahir dari fikiran kita sendiri , jika kita memikirkan kelucahan kelucahanlah yang menjelma menjadi diri kita.Apakah tidak lucah bila anda lengkap melakukan ritual-ritual agama kemudian anda merasa lebih baik dari yang lain dan layak menghukum?
Saya melihat Namron sebagai seorang manusia sekaligus sebagai seorang “performer”.Beliau tidak terperangkap dalam sensasi drama-drama suamimu suamiku jua dan sebagainya ,di mana saya merasakan itu lebih lucah. Memperdagangkan sebuah fantasi kesucian sebagai produk tanpa ada budaya dan pemikiran yang membangun dan kita semua menerimanya sebagai sebuah kebenaran. – The Vibes, January 9, 2022
Faizal Bin Hussin is a freelance photographer